Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Delicious button
Flickr button

Mapflofa Adventure

2007
05.11

Keindahan matahari sore menyinari kota samarinda, Tetapi hiruk pikuk kendaraan masih menghiasi kota tepian ini. Terlihat beberapa anggota MPFF sibuk kesana-kemari mencari kapal ces yang dapat di sewa dan akan digunakan untuk menyusuri liukan-liukan sungai karang mumus menuju hulu dan kembali lagi ke hilir sampai dengan muara sungai mahakam yang panjangnya kurang lebih 15 km.

Mereka terlihat kebingungan mencari kapal, karena sehari sebelumnya telah ada perjanjian untuk menyewa salah satu kapal penduduk sekitar sungai untuk dipakai pada hari minggu. Tetapi keadaan berkata lain, nenek dari empunya kapal tiba-tiba sakit keras dan otomatis penyewaan kapal dibatalkan.


Dengan perasaan sedikit gundah empat sekawan ini mondar-mandir, Kesana kemari dengan menggunakan 2 buah motor. Ayu, Kiky, Firman dan Agus nama keempat anak yang sedang di kejar waktu untuk mendapatkan kapal ces. Keluar masuk gang dan melewati pasar segiri telah di lalui dengan harapan akan mendapatkan kapal ces yang bisa di sewa.


Kiky, sebagai Kadiv Lingkungan Hidup di MPFF yang bertanggung jawab pada kegiatan hari ini terlihat cemas dan bingung

karena sampai dengan jam setengah empat kapal belum juga didapatkan. Sementara anggota Mapflofa lainnya kini tengah bosan menunggu kapal di pinggiran sungai tepatnya dibagian belakang Universitas Mulawarman.

Setelah berputar-putar, akhirnya sang ketua Mapflofa atau biasa dipanggil Abang firman seakan mendapat pencerahan dari sebuah mimpi yang pernah ia alami dalam tidurnya. Dalam mimpi ia pernah berkeliling mencari sewaan kapal ces dimana keadaannya sama seperti yang ia alami saat ini. Dengan pencerahan maka keempat anak manusia ini mencari sebuah gang yang ada di dalam mimpi.

Gang yang di cari telah ditemukan dan empat sekawan mencoba masuk ke dalamnya, Di dalam gang mereka bertemu dengan penduduk yang tinggal di daerah tersebut dan bertanya bertanya ‘Pa, disekitar sini ada orang yang biasa menyewakan kapal ces nggak?’ lalu orang tersebut menjawab ‘Oh… ada. Itu rumahnya yang berwarna biru, ketok saja pintunya’ kata bapak tersebut. ‘Terima kasih, Pa’. Ujar Firman.


Rumah pemilik kapal di ketok dan tak lupa mengucapkan salam. Tak terdengar jawaban…lalu pindah lewat samping rumah. Belum ada jawaban juga. Kiky pun terlihat cemas kalo-kalo orangnya tidak ada di rumah dan otomatis kapal tidak ada juga. Kiky takut karena teman-teman yang lain telah lama menunggunya kira-kira satu jam sudah berlalu untuk mencari ganti kapal ces yang gagal untuk disewa. Karena tak ada jawaban dari depan dan samping rumah, Firman memutuskan untuk lewat pintu belakang. Alhamdulillah ternyata di belakang ada orang, dua pasang suami istri dan satu anak balita. Sepasang suami istri yang memiliki anak balita adalah anak dari pemilik kapal.


Keceriaan tak dapat ditutupi. Terutama si kadiv LH… lega rasanya bisa dapat kapal ces juga, kata Kiky. Karena waktu bertambah sore. Pemilik kapal mulai menyiapkan kapalnya. Dan dari jauh terdengar suara azan ashar, lalu Ayu pun meminta izin tuk melakukan ibadah telebih dahulu sebelum menyusuri sungai karang mumus. Agus juga keluar, mungkin membeli rokok dan sebelum berangkat Kiky membeli 2 botol aqua dan 2 buah kue crispy untuk di bawa sebagai bekal.


Setelah selesai menyiapkan dua buah kapal yang akan di gunakan untuk susur karang mumus, kapal pun berangkat bersama empat sekawan. Kiky senang, karena bisa mendapatkan kapal yang di cari untuk susur Sungai Karang mumus.


Perjalanan melewati pemukiman kumuh penduduk, jamban-jamban bertebaran di pinggiran dan tengah sungai. Keadaan ini membuat kota Samarinda terlihat semakin kumuh dan jorok. Keadaan ini di perparah dengan sampah yang berkeliaran di atas air.


Sampai di daerah belakang Universitas Mulawarman tepatnya di dekat jogging track, perlahan kapal berhenti dan mulai bersandar agar anggota Mapflofa lainnya seperti Thendy, Rusding, Fatimah, Lely, Agung dan Lusi yang sedari tadi sudah menunggu dapat naik ke atas kapal, karena kapal ada dua maka orang-orang yang ada di masing-masing kapal di bagi agar seimbang.


Perjalanan dilanjutkan menuju hulu karang mumus, yakni ke Bendungan Benanga.


Sepanjang sungai bermacam-macam aktivitas yang dilakukan oleh teman-teman MPFF, ada yang melamun, mengambil gambar karang mumus dengan menggunakan handy cam, ada yang asyik memotret, ada yang berpose dan ada juga yang asyik menikmati pemandangan vulgar yang di suguhkan sepanjang Sungai Karang Mumus.


Ayu sebagAi Kadiv Fauna, mengamati fauna di sepanjang Sungai Karang Mumus dengan menggunakan peralatan berupa alat tulis, tally sheet dan binokuler. Tetapi, karena kekurangan alat tulis maka hanya beberapa orang saja yang melakukan pencatatan.


Di sepanjang sungai bersyukurlah ketika kita masih dapat melihat Burung Blekok sawah , Pipit, Raja udang meninting, Perkutut, Layang-layang rumah, Bentet kelabu, Kipasan Belang, Punai gading, Walet biasa, Merbah cerucuk, Kareo padi, bebek dan angsa yang dipelihara warga di pinggir sungai.


Semakin menuju hulu, maka lebar sungai semakin menyempit, tetapi daerah hulu lebih baik dari pada daerah hilir. Pada daerah hulu masih banyak terdapat pepohonan dan airnya pun lebih bersih di bandingkan daerah hilir, sampah juga sedikit sekali berlalu lalang di atas air.


Waktu terlihat semakin senja, matahari pun semakin memerah dan semburat jingga terlukis di langit menambah keindahan sore hari. Walaupun belum sampai di bendungan, kapal harus kembali ke hilir dikarenakan hari sudah mulai gelap.


Dalam perjalanan menuju hilir “pemandangan indah “ yang di suguhkan oleh pemukiman kumuh di atas air menjadi canda tawa oleh teman-teman MPFF.


Lusi dan Fatimah atau biasa di panggil Mbul tersipu-sipu malu melihat ‘cd’ yang mayoritas bermotif garis-garis he..he..he..


semakin sore, maka aktifitas di sepanjang Sungai Karang Mumus semakin rame dan Agus terlihat dengan asyiknya mengabadikan aktivitas yang biasa dilakukan setiap sore hari dengan menggunakan sebuah camera digital.


Banyak anak –anak kecil yang asyik berenang, ibu-ibu mandi menggunakan sarung yang hanya menutupi sebagian tubuhnya sambil mencuci baju, Ada juga bapak-bapak dan para pemuda yang mandi hanya menggunakan celana dalam. Dan hal tersebut sudah menjadi pemandangan biasa di Sepanjang Sungai Karang Mumus.

 

Pemandangan semacam itu jarang sekali terlihat di pusat-pusat kota. Karena itu para gadis yang ada di atas kapal berha.ha..hi..hi.. melihatnya. Aneh, memalukan dan iiihh…ngeri…Terutama lusi yang punya mulut speaker…he..he..he.. dia pasti paling nyaring kalau lagi tertawa.


Sementara teman-teman yang berada di kapal depan asyik menshoot aktivitas yang wouw…vulgar dan Agung dengan wajah manisnya tak berkedip melihat pemandangan yang jarang-jarang ditemui di perkotaan itu he..he..he.. Sedangkan ka rusding dengan rambutnya yang baru, asyik berpose di depan kamera dan seakan berada di atas kapal Titanic.


Di tengah- tengah perjalanan menuju hilir tiba-tiba kapal yang berada di depan berhenti dan coba memperbaiki sesuatu yang berada di belakang kapal dan kapal kedua yang ada di belakang tak sempat tuk mengerem, tak ayal kecelakaan kapalpun terjadi.


Lely yang berada di ujung kapal tak sempat menghindar dan tetap pasrah pada keadaan yang membuat ia jatuh dengan posisi kaki diatas, menyedihkan memang…tapi apa mau dikata semua sudah terjadi. Agus dan Firman tak tinggal diam, mereka lalu menolong Lely bak superhero….dengan sigap mereka menolongnya. Satu kalimat keluar dari mulut mereka ‘untung kamu pake helm (topi capin) Lel,…’. Kata Agus, yang masih sempat bercanda dalam suasana yang genting pada saat itu.


Setelah kejadian tersebut perjalanan kembali dilanjutkan, sampah terlihat di samping kanan dan kiri kapal sedang mengapung dan menemani perjalanan sepanjang menuju muara Sungai Mahakam.


Ketika melewati pasar segiri dan pasar sungai dama’ aroma pun mulai bermacam-macam amis, bau bercampur menjadi satu yang membuat jari telunjuk dan jempol bersatu menutup hidung.


Setelah melewati pasar. Terlihat kanan dan kiri pada pinggir sungai sudah tidak ada lagi perumahan kumuh. Karena telah di lakukan penurapan sepanjang sungai sampai dengan muara Sungai Mahakam.


Hal ini di lakukan dengan harapan air sungai karang mumus dapat kembali bersih, yang didukung dengan di bongkarnya rumah-rumah penduduk dan pembuatan turap di sepanjang sungai.


Dimana pemerintah juga mempunyai program pembuatan jalur hijau di sepanjang Sungai Karang Mumus agar kota samarinda dapat kembali asri.


Tak terasa perjalanan telah mencapai finish, yaitu telah sampai pada muara Sungai Mahakam. Pada muara sungai mahakam, kapal terasa lebih goyang karena ombak pada sungai mahakam cenderung lebih besar.


Karena hari sudah malam, maka diputuskan untuk kembali pulang menuju tempat semula. Yaitu menuju rumah pemilik kapal ces.


Tak lupa ucap syukur pun keluar dari bibir, karena kegiatan dapat terlaksana walaupun dalam perjalanannya terdapat kecelakaan kecil. Tetapi, tidak terlalu berpengaruh terhadap perjalanan MAPFLOFA menyusuri Sungai Karang mumus yang bertujuan mengetahui kedaan sesungguhnya Sungai Karang Mumus dan apa yang dapat dilakukan dengan kondisi yang ada sekarang.

 

“MAPFLOFA TIDAK AKAN HANYA BERKATA, TAPI MAPFLOFA JUGA AKAN BERBUAT”

MAPFLOFA…BERKIBARLAH…BIRUMU…

Rhes_Q

18_Juni’06

Cloud Callout: DIVISI LH  MAPFLOFA


NB : Tulisan Ini merupakan sekelumit cerita dari perjalanan

Yang dilakukan oleh teman-teman Mapflofa.

Jika ada kesalahan di dalam tulisan ini, Penulis mohon maaf.

Terima kasih & Salam Lestari…

4 Responses to “Mapflofa Adventure”

  1. rosselina says:

    pengen tau klo mo mengarungi mahakam dari kota samarinda ke tenggarong ato kota bangun pake kapal sewaan bisa ga ya? nyarinya dimana?

  2. Kalau pakai kapal sewaan, kemungkinan bisa... Kalau meyusuri karang mumus 1 kapal (ces) bisa sewa dengan harga 50-100 ribu bisa muat 4-5 orang, kalau mahakam - kota bangun (wah, selain ombaknya juga lumayan besar--kalau pakai ces, mungkin harga sewa juga lebih tinggi)...

    Selain sewa... bisa juga naik kapal penumpang, atau sewa speed. pelabuhannya di sebrang terminal bis bppn-samarinda di sungai kunjang.

  3. Memex O_o says:

    mbuh ah makin ga jelas aj dasar aneh pake nyewa kapal segala berenang aj klo cinta lingkungan ^_^ sekalian ngemat BBM biar ga habis BBM (bahan bakar mentah) nya ntar ga bisa nyebrang laut lage $_$ Time is Save Energy @_@

  4. Time is Save Energy ...bagus. Tapi, berenang??? itu namanya bunuh dari kalee.. :-) . Gimana coba kalo kaga bisa renang?.. baru 5 meter dah kelelep...kasian khan...he..he..

Your Reply

* ketik kata.
Anti-Spam Image