Manusia memiliki ego yang merupakan sifat dasar manusia.Apa sich ego itu ? Ego berasal dari bahasa latin, yang berarti Aku. Dalam situasi dan kondisi dalam hidupnya, manusia cenderung ingin menampakkan Keakuannya, yakni ingin menunjukkan kehebatan/kebolehannya. Dari ego yang dimiliki, jika di tempatkan sesuai dengan porsinya maka akan bermanfaat. Tetapi, jika berlebihan maka akan timbul sikap egoisme yang membuat kita selalu ingin menang sendiri, tidak mau menerima pendapat orang lain dan tidak perduli dengan perasaan orang lain. Tak dapat kita pungkiri hal tersebut akan membawa dampak buruk bagi kita maupun orang lain.
Sikap egois banyak sekali bentuknya, kita tidak menyadari bahwa yang kita lakukan adalah salah satu bentuk keegoisan. contoh dalam kehidupan sehari-hari; Sebagai orang tua pastilah ingin memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya oleh karenanya si anak diharuskan mengikuti berbagai macam kursus yang membuat kebebasan anak dalam bermain terenggut. Dalam cinta, kita juga mengusung indahnya keegoisan yang disadari atau tidak hal tersebut akan menyusahkan orang lain (kekasih hati) karena selalu.. selaluâ… selaluâ… ingin diperhatikan, dimanja (dan dipuji juga kali yee). Sang kekasihpun diharuskan datang tepat waktu, wajib ada saat dibutuhkan dan kesemuanya dilakukan tanpa pernah memikirkan kepentingan sang kekasih…yang tak kalah penting dengan kepentingan pribadi kita.
Saya punya pengalaman dengan sesuatu yang bernama ego ini, Saya punya seorang teman yang bisa dikatakan cukup pintar dalam segala hal, tetapi sangat disayangkan dengan kepintaran yang dianugerahkan kepadanya nampaknya dia menjadi seorang yang jumawa. Tutur halus kata mulai jarang lagi terdengar, yang ada hanya celetukan-celetukan (ringan seh!!) tapi cukup…cukup…mengiris hati. Hari-hari dalam hidupnya dihiasi dengan keegoisan. Yaitu, Mau menang sendiri dengan melakukan segala sesuatunya sendiri (Uuh mau jadi Hero yaa!), tak mau peduli pendapat orang (sudah tidak mau tau malah mencemooh lagi!!! kasian bangett..) dan parahnya lagi kepintaran yang dipunyai hanya dijadikan alat untuk menjatuhkan orang lain sampai orang tersebut benar-benar jatuh tak berkutik..tik. Bersosialisasi dengan kawan-kawanpun mulai berkurang (menghilang dari peredaran coy…) hal ini bisa disebabkan karena kawan-kawan membenci kepongahannya atau dapat juga disebabkan dia enggan berkawan dengan orang-orang yang dianggap tidak se-level dengannya (dianggap bodoh githu lho!?)
Dari pengalaman yang saya ceritakan dan setelah Anda membaca tulisan ini, mari bersama merenung dan bercermin diri atas sikap dan sifat yang menurut kita dapat merugikan diri kita sendiri dan orang lain. Selagi masih bisa dirubah kenapa tidak??!! Saya yakin dengan melepas Mahkota keegoisan rasa bangga dan bahagia akan datang menghampiri untuk memberi selamat atas kesuksesan yang telah kita capai. Amieen….
Rhes_Q
24_Mei’06