Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Delicious button
Flickr button

Hutan Hujan Tropis di Bukit Bangkirai, Kalimantan Timur

2012
05.15

Landscape Hutan Tropis Kalimantan, Pemandangan dari Canopy Bridge

Bukit Bangkirai adalah nama salah satu lokasi wisata di Kabupaten Kutai Kertanegara  di Kalimantan Timur, Indonesia. Dimana lokasi wisata ini menyuguhkan keindahan alam Hutan Tropis dan Canopy Bridge (Jembatan Tajuk). Jembatan Tajk yang ada di Kalimantan Timur ini adalah jembatan tajuk yang pertama kali di bangun di Indonesia pada tahun 1998 dan diperkirakan bisa bertahan hingga 15-20 tahun .

Kawasan bukit bangkirai merupakan Kawasan Hutan Konservasi yang luasnya sekitar 1500 Ha, dan pada tahun 1998  510 Ha  dari luas kawasan tersebut telah diresmikan sebagai kawasan wisata. Keunikan wisata di Bukit Bangkirai adalah Canopy Bridge atau Jembatan Tajuk. Canopy Bridge memiliki total panjang sekitar 64 meter.  Terdapat 4 jembatan yang saling terhubung. Namun, kondisi saat ini ada satu jembatan panjang yang mengalami kerusakan dan tidak diperkenankan untuk dinaikin, sebelum dilakukan perbaikan.

canopy bridge di bukit bangkirai

Tangga Naik menuju Canopy Bridge

Canopy Bridge Terlihat dari bawah

Cottage di Bukit Bangkirai

Kawasan wisata bukit bangkirai, memiliki fasilitas yang cukup lengkap. Terdapat beberapa cottage untuk menginap yang telah dilengkapi listrik dan ada juga yang belum dilengkapi listrik (jika pengunjung benar2 ingin merasakan hidup di alam). Selain cottage, ada juga fasilitas lainnya seperti Lamin tempat pertemuan, Kolam renang, restaurant dan lapangan hijau kecil untuk kegiatan outdoor. Read the rest of this entry »

Pasar Terapung (Floating Market), Pasar Unik Di Kalimantan Selatan, Indonesia

2012
01.26

Embun pagi masih membasahi, dan kayuh dayung perahu para ibu pun telah menambah semarak suasana pagi di desa Lok Baintan. Terlihat di kejahuan satu persatu perahu dari arah hilir dan hulu sungai mulai berdatangan dan berkumpul di dermaga Lok Baintan. Dermaga Lok Baintan, merupakan salah satu titik dimana aktivitas pasar terapung berada. semakin beranjak siang, maka perahu yang berisi aneka daganganpun semakin ramai berdatangan dan memulai aktivitas jual beli. Pembeli yang datang ke daerah tersebut bukan hanya berasal dari warga sekitar, tetapi juga banyak pengujung/wisatawan. Para wisatawan yang datang ke daerah tersebut selain warga Indonesia, juga ada wisawatan mancanegara.

Pasar terapung, merupakan salah satu keunikan yang dimiliki Indonesia dan Terletak di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Walaupun selain Indonesia, ada juga negara lain yang memiliki pasar terapung, yakni negara Thailand. Namun, terlepas daripada itu kekhasan yang ada disuatu daerah seperti di Lok Baintan ini patut untuk dipertahankan dan terus dilestarikan. Selain menjaga keutuhan sebuah budaya, juga bisa menambah pemasukan bagi warga setempat ataupun  penambahan devisa jika aktivitas pasar terapung terus dipertahankan dan dikelola sedemikian baik oleh pemerintah agar bisa terus menjadi andalan wisata daerah tersebut.

Read the rest of this entry »

Nama-nama unik untuk Burung

2011
06.07

Tersiphone paradisi Betina. Burung jantan, biasa di sebut sebagai burung tali mayat. Karena memiliki ekor panjang berwarna putih

Selama ekspedisi hasil kerja sama PPHT UNMUL dan WWF Indonesia di Sungai Boh kabupaten Malinau (Kalimantan Timur-Borneo), aku coba menggali nama lokal burung yang sering di jumpai oleh penduduk lokal (Dayak Kenyah-Lepuk Tao). Sembari memperlihatkan buku identifikasi Burung-burung di Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan oleh J. Mackinnon, dkk. Bapak yang membantu ku untuk identifikasi langsung faham dengan menunjuk si burung dan menyebutkan nama (bahasa dayak kenyah-lepuk tao) dari burung yang ada di dalam buku. Read the rest of this entry »

Expedisi Sungai Boh dan Ular paling berbisa!

2011
06.06

Kali ini perjalanan ekspedisi memakan waktu yang cukup panjang, tim ekpedisi pun memulai perjalanan di malam hari. Kami berkumpul di dua titik, satu di depan Laboratorium Kehati Fahutan Unmul dan satu lagi berkumpul di Pusat Penelitian Hutan Tropis Unmul (PPHT Unmul).

Sekitar pukul 9 kami memulai perjalanan darat samarinda-tering (Kutai Barat) yang memakan waktu 8 jam dengan melewati jalan berlubang dan berkelok-kelok naik turun..dengan perjalanan malam nan gelap, memang asiknya tidur saja daripada mabuk darat. Di tengah perjalanan kamipun menyempatkan untuk sejenak beristirahat makan mie, ngeteh dan ngopi untuk para supir biar tidak mengantuk dalam perjalanan.

Menuju Pelabuhan Tering (Kutai Barat), Melewati Pasar dadakan

Mobil harus berputar, karna tak bisa melalui banjir

Perjalanan bebrganti haripun kami lewati, pagi jam 06.30 kami sampai di kantor WWF di Kutai Barat untuk sejenak beristirahat, bersih2 wajah dan ngopi. Selang waktu 1-2 jam kami pun melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan kapal di Tering.  500 m sebelum pelabuhan Tering, kami harus melewati pasar dadakan hari itu, tak ayal lagi kami pun harus mendengar omelan dan harus super duper berhati2 untuk melewati jalan yg ukurannya press 1 mobil dan banjir. Kami pun gagal menuju pelabuhan tering dan harus berbalik arah menuju pelabuhan Gruty untuk mencari kapal menuju Long Bagun.

Perjalanan Long Bagun kami tempuh dengan  menggunakan Long Boat dengan biaya 300.000/org. Di tengah perjalanan sedikit mengalami hambatan, awak kapal kami kesulitan mencari minyak (bensin/solar). sembari menunggu mereka mencari minyak kami makan siang di desa terdekat, datah bilang.  selama 3 jam kami beristirahat kemudian baru kami bisa melanjutkan perjalanan menuju Long Bagun.

kawan-kawan ekspedisi yang terlelah selama perjalanan di atas long boat

Dalam perjalanan 3 jam menuju Long Bagun, bisa ditemukan batu dinding. Tebing karst yang tinggi dan membentang panjang di sebelah kanan sungai..cakep, apalagi kalau langit lagi cerah.

batu dinding, di tengah perjalanan menuju long bagun

Read the rest of this entry »

Green Not Always ‘Green’ !

2011
01.06

Hijau Tak Selalu 'Hijau'

Green Not Always ‘Green’ ! atau bahasa pribumi nya Hijau Tak Selalu ‘Hijau’. Ini menggambarkan kondisi kota Balikpapan yang mulai menghijau.

Balikpapan adalah kota di Propinsi Kalimantan Timur yang merupakan pintu gerbangnya Kaltim. Sejak beberapa tahun lalu selalu rutin mendapatkan penghargaan ADIPURA, yang nota bene penghargaan ini diberikan kepada kota yang selalu menjaga kebersihannya dan didukung oleh semua warganya.

BERIMAN adalah sebutan untuk kota Balikpapan yang artinya Bersih Indah Aman dan Nyaman. Pada tahun 2004 sebutan ini didukung dengan adanya Perda 10 tahun 2004 tentang Pengelolaan Persampahan atau sering disebut Perda Kebersihan.  Untuk Sejarah Kota Balikpapan bisa klik disini.

Dalam 3-4 tahun belakangan ini di Kota Balikpapan, terdapat program yang bertajuk Green, Clean And Healthy yang belakangan program tersebut berubah menjadi Green And Clean di tahun 2010. Memang semakin membanggakan bisa menjadi bagian warga Balikpapan, apalagi jika turut membantu menerapkan program kebersihan tersebut.

Namun, ada hal yang sedikit mengganggu  adalah jika coba melihat kembali. Jika pada setiap RT yang ada di balikpapan terlebih bagi mereka yang bisa dikategorikan masuk dalam nominasi Program tersebut. Pastinya akan berlomba-lomba mempercantik RT nya masing-masing. Program yang bertajuk Green and Clean pun diartikan sebenar-benarnya warna hijau, dan kejadian selanjutnya adalah dimana di setiap lorong2 jalan akan dijumpai pagar rumah yang di seragamkan, kemudian ada pula pagar rumah menjadi berwarna hijau, pot bunga berwarna hijau. Dan sebagian besar RT pun akhirnya berwarna sama, yakni ‘HIJAU’. Green dalam program kebersihan di Balikpapan bukan berarti semuanya harus berwarna hijau dan setiba-tibanya rumah di kampung menjadi sebuah perumahan berwarna hijau. Dalam benak berfikir ” Program Green and Clean” ini tidak sedang ingin membuat rumah-rumah kampung menjadi perumahan hijau kan????….

Bisa jadi tidak semua RT seperti itu, tapi cobalah tengok kembali… agar Green atau Hijau, dalam program yang terus dicanangkan oleh pemerintah Kota Balikpapan ini tidak menjadi salah kaprah oleh masyarakat dalam mengartikan hijau tersebut.

Dan bisa menjadi sebuah catatan penting lainnya dari seorang kawan adalah pembuatan barang-barang guna ulang menjadi berbagai pernak-pernik, yang konon untuk dijadikan salah satu cara untuk pemanfaatan sampah. Tapi, jika dilihat pada pagelaran yang menampilkan baik pakaian, pernak-pernik atau peralatan lain yang dibuat menjadi bahan guna ulang, dsini ada sedikit pertanyaan. Jika program pemanfaatan guna ulang sampah ini terus digulirkan bahkan jika nantinya sampai di tingkat yang lebih luas (nasional).

Apakah Ini akan membuat Produsen pembuat produk-produk yang bahan baku pembungkusnya digunakan sebagai produk guna ulang Tidak Akan LAGI berfikir untuk mengurangi produksi mereka/bahkan tak akan ada upaya untuk merubah menjadi bahan2 yang lebih ramah lingkungan lagi?????….dengan adanya program guna ulang tadi!

Tetapi jika dengan adanya program guna ulang tersebut benar-benar untuk mengurangi dan memanfaatkan sampah, maka hal tersebut akan sangat baik sekali.  Apalagi  jika dibarengi dengan mendorong para produsen penghasil “sampah” untuk mengurangi produksi ataupun membuat produk-produk mereka menjadi lebih ramah dengan lingkungan.

“Semoga beberapa hal ini bisa menjadi koreksi buat perbaikan program Green and Clean di Balikpapan ataupun di tempat lain yang sedang melaksanakannya”

Reski Udayanti

6 Januari 2011